
Jalan Asia Afrika di Bandung bukan sekadar akses transportasi antar wilayah kota. Kawasan ini menyimpan cerita besar tentang perubahan sejarah Indonesia dan dunia, dari masa penjajahan hingga menjadi saksi lahirnya prinsip-prinsip internasional yang masih relevan hingga hari ini.
Sebelum bernama Asia Afrika, jalan ini adalah bagian dari Groote Postweg atau Jalan Raya Pos, jalur sepanjang seribu kilometer dari Anyer ke Panarukan yang dibangun pada era Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Pembangunannya melibatkan kerja paksa dengan banyak korban, menjadi simbol kekuasaan Hindia Belanda.
Ironi sejarah terjadi ketika jalan yang dulunya melambangkan kolonialisme berubah fungsi menjadi tempat negara-negara Asia dan Afrika menyuarakan perlawanan terhadap penjajahan. Perubahan nama menjadi Jalan Asia Afrika setelah 1955 bukan sekadar penanda geografis, tetapi juga penanda transformasi makna dari represi menjadi pembebasan.
Gedung Merdeka, yang berdiri di Jalan Asia Afrika nomor 65, adalah bangunan art deco paling bersejarah di kawasan itu. Awalnya bernama Societiet Concordia sebagai tempat perkumpulan sosial masyarakat Eropa. Pada 1926, bangunan ini direnovasi total oleh arsitek Van Galen Last dan C.P. Wolff Schoemaker, menghasilkan struktur megah dengan lantai marmer dan lampu kristal.
Pada April 1954, Presiden Soekarno mengubah nama bangunan menjadi Gedung Merdeka, menandai perpindahan kepemilikan dari pemerintah Hindia Belanda ke Indonesia. Setahun kemudian, gedung ini menjadi pusat perhatian dunia.
Pada 18-24 April 1955, Gedung Merdeka menampung Konferensi Asia Afrika, pertemuan 29 negara dari kedua benua tersebut. Pemimpin besar seperti Soekarno, Jawaharlal Nehru, Zhou Enlai, dan Gamal Abdel Nasser duduk bersama membahas kolonialisme, perdamaian dunia, dan kedaulatan negara. Konferensi ini menghasilkan Dasasila Bandung, sepuluh prinsip yang menekankan penghormatan kedaulatan, hak asasi manusia, dan penyelesaian konflik secara damai.
Bangunan berarsitektur art deco berderet di sepanjang Jalan Asia Afrika, melengkap dengan lampu jalan bermotif besi tempa yang memperkuat nuansa masa lalu. Meski kota terus berkembang modern, kawasan ini tetap mempertahankan elemen-elemen yang mengingatkan pada perannya sebagai panggung sejarah.
Kini, Jalan Asia Afrika telah menjadi destinasi wisata populer, terutama saat akhir pekan. Pengunjung datang untuk berfoto di depan bangunan bersejarah atau mengunjungi Museum Konferensi Asia Afrika yang tersimpan di Gedung Merdeka. Trotoar yang dulu menjadi lintasan pemimpin dunia kini ramai dengan masyarakat biasa yang menikmati suasana kawasan.
Bangunan-bangunan tua itu tetap berdiri sebagai pengingat bahwa sebuah kota dapat menyimpan cerita lebih besar dari sekadar perkembangan fisiknya. Di sini, jejak kolonial, perjuangan kemerdekaan, dan diplomasi internasional bertemu dalam satu ruang, menjadikan Jalan Asia Afrika lebih dari sekadar nama—ia adalah bagian dari memori global tentang bagaimana bangsa-bangsa Asia dan Afrika berbicara tentang masa depan mereka.
Sumber: Detik Travel
Berita Terkait

Pemprov DKI Dengarkan Keluhan Persija, Berkomitmen Perbaiki Rumput Stadion JIS

Dompu Siapkan Dua Ruas Jalan Kabupaten untuk Perbaikan Tahun 2026

PLN Komitmen Perkuat Listrik sebagai Fondasi Kemandirian Ekonomi dan Sosial Indonesia

