
Rhenald Kasali, seorang guru besar di bidang manajemen dari Universitas Indonesia, mengingatkan pentingnya peran kuliner lokal sebagai bagian dari strategi promosi negara. Kritikannya muncul setelah dia menaiki penerbangan Garuda Indonesia dari Tokyo ke Bali pada pertengahan Oktober lalu.
Dalam perjalanannya itu, Rhenald memperhatikan bahwa menu Business Class masih didominasi hidangan internasional seperti ayam Vietnam dan hidangan Jepang, sementara cita rasa Indonesia hampir tidak terlihat. Dia kemudian membagikan pengamatannya di media sosial dengan menyinggung kesempatan yang terlewatkan.
Menurut Rhenald, maskapai seharusnya menghadirkan kuliner daerah yang kaya dan menggugah selera, seperti ayam betutu khas Bali atau sei sapi. “Kuliner bukan sekadar soal rasa, tetapi juga bagian dari identitas dan promosi sebuah negara,” tulisnya.
Dia memahami adanya menu Jepang mengingat penerbangan berangkat dari Tokyo, namun mempertanyakan mengapa pilihan makanan khas Indonesia masih sangat terbatas untuk rute menuju Bali. Rhenald melihat ini sebagai peluang yang belum dimaksimalkan untuk memperkenalkan kekayaan daerah sejak penumpang masih di udara.
Meski memberikan sorotan terhadap menu makanan, Rhenald tetap memuji aspek lain dari layanan Garuda Indonesia. Dia mengatakan bahwa kru pesawat memberikan pelayanan dengan profesional dan kabin terlihat bersih, sehingga pengalaman terbang tetap memuaskan secara keseluruhan.
Peluang ini dilihat sebagai cara efektif bagi maskapai untuk menjadi jembatan budaya sekaligus mendorong ekonomi kreatif dan pariwisata Indonesia. Beberapa hari setelah sorotan ini, Garuda Indonesia memang mulai menampilkan menu Nusantara seperti siomay tenggiri dan gohyong ayam di rute domestik, menunjukkan responsivitas perusahaan terhadap feedback industri.
Sumber: Detik Travel
Berita Terkait

Pemprov DKI Dengarkan Keluhan Persija, Berkomitmen Perbaiki Rumput Stadion JIS

Dompu Siapkan Dua Ruas Jalan Kabupaten untuk Perbaikan Tahun 2026

PLN Komitmen Perkuat Listrik sebagai Fondasi Kemandirian Ekonomi dan Sosial Indonesia

