Dunia Bergolak: Trump Dikecam, CIA Prediksi Israel Bisa Pecah, Iran Ancam Balas Serangan

Dunia Bergolak: Trump Dikecam, CIA Prediksi Israel Bisa Pecah, Iran Ancam Balas Serangan

Sejumlah perkembangan panas terjadi di panggung geopolitik global pada Rabu (7/10/2026). Mulai dari kontroversi ucapan Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal kota-kota di negaranya sendiri, peringatan keras dari Iran, hingga bocoran laporan intelijen yang menyebut Israel berada di ujung tanduk secara politik.

Trump menuai kecaman setelah komentarnya dianggap memberi angin kepada Iran untuk menyerang Los Angeles dan San Diego — dua kota besar di negara bagian California yang dipimpin Gubernur Gavin Newsom dari Partai Demokrat. Para politisi Demokrat ramai-ramai mengecam pernyataan itu. Gedung Putih turun tangan memberi penjelasan, menegaskan bahwa ucapan Trump telah disalahpahami dan bahwa ia sama sekali tidak mendorong atau mengizinkan Iran menyerang kota-kota AS.

Masih soal Trump, ia juga mengomentari demo pelajar yang berujung ricuh di Prancis, di mana hampir 500 orang ditangkap. Tanpa menyertakan bukti, Trump mengaitkan kerusuhan itu dengan isu migrasi dan agama. “Apa yang terjadi di Prancis tidak lain adalah migrasi massal yang tak terkendali,” tulisnya di media sosial Truth Social. Ia bahkan menambahkan, “Ini bukan soal sekolah, ini soal Islam yang ingin mengambil alih sebuah negara yang dulunya hebat!”

Di sisi lain, sebuah laporan rahasia dari CIA — badan intelijen pusat Amerika — mengindikasikan bahwa Israel berisiko jatuh ke dalam keruntuhan politik atau bahkan perang saudara. Laporan itu menyebut perpecahan di bidang politik, ekonomi, dan sosial di Israel semakin dalam setelah negara itu terlibat perang di berbagai front sekaligus, termasuk di Gaza, Lebanon, dan melawan Iran.

Arab Saudi juga melaporkan berhasil menembak jatuh sejumlah rudal balistik yang diluncurkan kelompok Houthi dari Yaman, salah satunya dicegat di dekat Riyadh, ibu kota Saudi. Serangan ini terjadi di tengah operasi militer pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.

Sementara itu, Iran tidak tinggal diam. Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Reza Talaei-Nik, menegaskan bahwa setiap serangan baru dari AS atau Israel akan dibalas dengan respons yang lebih besar. Iran mengklaim kapasitas produksi senjatanya sudah diperluas hingga 2,5 kali lipat, dan target-target pembalasan pun dikatakannya sudah disiapkan. Situasi global yang semakin tegang ini menjadi pengingat bahwa stabilitas dunia kini bergantung pada seberapa hati-hati para pemimpin besar mengambil langkah berikutnya.

Sumber: Detik.com

Berita Terkait

Scroll to Top