
Wilayah Karanganyar, Jawa Tengah, menyimpan potensi risiko gempa yang tidak bisa dianggap enteng. Lokasinya yang berdekatan dengan sesar aktif daratan serta zona subduksi di selatan Pulau Jawa membuat warganya perlu punya bekal pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana sewaktu-waktu.
Untuk itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) — sebuah pelatihan langsung di lapangan — khusus untuk masyarakat Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar. Kegiatan ini melibatkan 53 peserta dari berbagai unsur, mulai dari petugas BPBD, dinas terkait, tenaga pendidik, relawan, hingga jurnalis lokal.
Peserta tidak hanya duduk mendengarkan materi. Mereka langsung diajak mengenal sistem peringatan dini gempa bumi atau yang dikenal sebagai earthquake early warning system (EEWS), mencoba simulasi guncangan, sampai berlatih mengambil keputusan cepat dalam situasi darurat. Instruktur yang terlibat berasal dari Stasiun Geofisika Kelas I Sleman.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan alasan program ini penting. “Para peserta itu dibekali pengetahuan pengenalan earthquake early warning system (EEWS), simulasi guncangan, hingga latihan simulasi pengambilan keputusan atau table top exercise,” kata dia.
Faisal juga mengingatkan bahwa hingga kini belum ada teknologi di dunia yang mampu memprediksi kapan dan di mana gempa akan terjadi secara tepat. Indonesia memang sudah punya ratusan sensor seismik, pelampung pemantau laut (buoy), serta kabel fiber optik bawah laut milik berbagai kementerian — tapi teknologi itu lebih banyak mendeteksi dampak lanjutan seperti tsunami, bukan gempa itu sendiri.
“Jadi program SLG ini sudah selaras dengan inisiatif global Early Warning, Early Action, dan Early Warning for All,” cetusnya, seraya berharap para peserta bisa meneruskan ilmu yang didapat ke keluarga dan lingkungan sekitar mereka.
Pelatihan semacam ini bukan sekadar formalitas — ini adalah investasi keselamatan jangka panjang bagi komunitas yang tinggal di kawasan rawan, agar ketika bumi bergetar, respons warga sudah otomatis terlatih, bukan panik tanpa arah.
Sumber: Antara News
Berita Terkait

Tiga Kali Dihantam Banjir, Warga Aceh Tenggara Kini Bergantung pada Jembatan Darurat

Dunia Bergolak: Trump Dikecam, CIA Prediksi Israel Bisa Pecah, Iran Ancam Balas Serangan

Ledakan di Restoran Surabaya Rusak 41 Bangunan, Mercy hingga Motor Jadi Korban

