
Museum Kesaktian Pancasila kini hadir dengan tampilan yang jauh lebih segar setelah melewati proses revitalisasi. Perpaduan antara diorama klasik dan teknologi digital membuat museum ini terasa lebih modern tanpa kehilangan nilai sejarahnya.
Begitu masuk, pengunjung langsung disambut oleh instalasi relief 3D Garuda Pancasila yang menjadi daya tarik pertama. Lorong-lorong museum sengaja dibuat remang-remang agar sorotan lebih terfokus pada koleksi diorama yang dipajang di sepanjang ruangan.
Sebanyak 34 diorama tetap dipertahankan, dengan pembagian 14 diorama di lantai satu dan 14 lainnya di lantai dua. Diorama-diorama ini mengisahkan rangkaian peristiwa G30S atau Gerakan 30 September, yaitu salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Indonesia.
Yang membedakan tampilan baru ini adalah hadirnya layar video yang dipadukan langsung dengan diorama. Pengunjung bisa menonton rekaman visual terkait peristiwa G30S sambil melihat replika tiga dimensinya, sehingga penyampaian cerita sejarah terasa lebih hidup dan mudah dipahami.
Selain diorama dan video, museum juga menyajikan narasi teks dan gambar visual yang dipasang di sisi dinding berseberangan. Ada pula dokumentasi foto proses pengangkatan tujuh jenazah Pahlawan Revolusi dari Lubang Buaya, yang menjadi salah satu bagian paling menyentuh dari pameran ini.
Dengan tata pamer yang lebih rapi dan pengalaman yang lebih interaktif, Museum Kesaktian Pancasila kini bisa menjadi pilihan destinasi wisata sejarah yang relevan bagi semua kalangan, termasuk generasi muda yang ingin mengenal sejarah bangsa dengan cara yang lebih menarik.
Sumber: Detik Travel
Berita Terkait

Dari Lombok sampai Tanimbar: Kampung Leluhur Para Pahlawan Timnas Juara ASEAN Cup 2026

Malam di Tepi Pantai Anyer Makin Spesial dengan Paket BBQ Dinner dari Nemuru Grand Anyer Palazo

Sekuriti Motel di Kuta Utara Adu Fisik dengan Turis Australia, Video Viral di Medsos

