Tanpa Hantu, Film Hasut Jadikan Perilaku Manusia sebagai Sumber Teror

Tanpa Hantu, Film Hasut Jadikan Perilaku Manusia sebagai Sumber Teror

Film horor tak selalu butuh penampakan untuk bikin merinding. Itulah prinsip yang diusung Film Hasut, sebuah karya debut sutradara Ilya Sigma yang memilih manusia dan perilaku hasut-menghasut sebagai sumber ketakutan utama dalam ceritanya.

Empat bintang utama tampil di lini depan film ini, membawa kisah yang berangkat dari dinamika antarmanusia ketimbang sosok gaib. Desain suara yang digarap secara khusus menjadi senjata utama untuk membangun suasana mencekam, menggantikan peran jumpscare atau penampakan yang biasa diandalkan film horor konvensional.

Produser Putrama Tuta menegaskan bahwa film ini dirancang bukan sekadar untuk menakut-nakuti, melainkan mengajak penonton merenungkan dampak dari ucapan dan tindakan mereka sendiri. “Kalau teman-teman nonton, semoga teman-teman bisa mulai bercermin juga sama diri sendiri gitu. Apakah kata-kata kita menyakiti orang lain, apakah tujuan ini kita keluarkan dapat merugikan untuk orang lain, apakah menguntungkan hanya untuk diri kita sendiri,” kata Putrama.

Di balik layar, perjalanan film ini ternyata sangat panjang. Naskahnya ditulis oleh Priesnanda Dwisatria bersama Ilya Sigma selama sekitar 15 tahun, berawal dari pengalaman pribadi Priesnanda saat mendaki gunung semasa kuliah menggunakan HT. Ide awalnya pun masih sangat berbeda dari hasil akhir yang ada sekarang.

Priesnanda mengakui naskah awal masih berkutat pada formula horor biasa. “Kita bercerita nulis sampai sekitar 15 tahun karena waktu awalnya itu ceritanya itu sebuah horor biasa, jumpscare gitu,” ungkapnya. Seiring waktu, cerita itu bergeser ke pendekatan yang lebih kaya karakter dan relevan dengan kondisi masa kini.

Film Hasut menjadi bukti bahwa horor bisa hadir dalam wajah yang berbeda — bukan dari balik bayangan gelap, tapi dari dalam percakapan dan pilihan yang kita buat setiap hari.

Sumber: Liputan6

Berita Terkait

Scroll to Top