
Upaya menekan emisi karbon di Indonesia kini mendapat dorongan baru. Asosiasi Ahli Emisi Karbon Indonesia (ACEXI) resmi meluncurkan program kemitraan bernama COPPER-ACE — singkatan dari Collaborative Partnership Program for Emission Reduction and Advancement of Climate Ecosystems — sebagai platform bersama yang menghubungkan berbagai pihak dalam ekosistem pengendalian perubahan iklim.
Ketua Umum ACEXI Lastyo Kuntoaji Lukito menegaskan bahwa persoalan emisi karbon sudah tidak bisa lagi ditangani secara sendiri-sendiri. “COPPER-ACE hadir sebagai wadah integratif yang menyelaraskan penguatan ekosistem, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kelembagaan secara bergandengan,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya membangun kapasitas para ahli karbon dalam negeri agar solusi iklim bisa berjalan secara berkelanjutan dan berkeadilan.
Penasihat Utama Menteri Kehutanan, Edo Mahendra, turut menyambut inisiatif ini dengan harapan besar. Ia mengibaratkan peran COPPER-ACE seperti tembaga — penghantar yang menyatukan para pemangku kepentingan untuk bersama-sama meningkatkan Nilai Ekonomi Karbon (NEK), yaitu sistem yang memberi nilai finansial pada upaya pengurangan emisi. “Semoga ini bisa menjadi momentum agar kita semua semakin kompak dan makin banyak membawa kebaikan bagi Indonesia,” katanya.
Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui platform pasar karbon IDXCarbon juga menyatakan kesiapannya mendukung program ini. Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, berharap COPPER-ACE bisa mempertemukan keahlian dengan kebutuhan industri secara nyata. “Kita juga ingin memastikan bahwa manfaat ekonomi dari besarnya potensi karbon Indonesia dapat sebesar-besarnya dinikmati di dalam negeri,” tegasnya. IDXCarbon sendiri telah beroperasi sejak September 2023 dan terus aktif mengembangkan ekosistem pasar karbon nasional.
Pada peluncuran ini, sejumlah perusahaan dan asosiasi menandatangani MoU maupun Letter of Intent (LoI) sebagai tanda keseriapan bergabung sebagai mitra ACEXI. Ke depan, ACEXI akan memetakan orientasi kegiatan masing-masing mitra guna menemukan peluang kolaborasi yang konkret demi mempercepat terwujudnya ekosistem karbon yang sehat dan terkelola dengan baik di Indonesia.
Sumber: Antara News
Berita Terkait

Penata Busana Wanda Hara Kehilangan Ayah, Kini Berstatus Yatim Piatu

Suriah Batasi Akses Perempuan di Program Militer dan Keamanan, Picu Kontroversi Hak Asasi

Hong Kong Hentikan Impor Daging Unggas dari Denmark dan Amerika Serikat Akibat Flu Burung

